Menjadi Kader NU Butuh Kesabaran

Oleh : Akhfaz Fauzi
_
Mundurnya Habib umar bin Smith dari jabatan mustasyar PBNU, saya tetap berhusnudzon itu adalah bagian dari taktik beliau juga, sebagaimana mufaroqoh yang pernah dilakukan oleh KH. As'ad Syamsul Arifin kepada Gus Dur saat memimpin NU.

Memang tidak gampang menjadi NU. Selain punya pengakuan, penerimaan, ketaatan, pandai dan cerdas, dalam NU juga harus punya sabar. Kalau orang NU tidak punya sabar, dari dulu NU sudah bubar karena ditinggalkan oleh banyak orang atau warganya.

Namun syukur alhamdulillah warga Nahdliyyin punya kesabaran tinggi dalam ber NU meski NU sendiri dihantam dan diserang bertubi-tubi oleh para pembenci NU, baik dari luar maupun oleh orang yang mengaku sebagai NU.

Sejak zaman Mbah Hasyim (rais akbar) dan penerusnya dari masa kemasa, NU tidak pernah sepi dari kritikan bahkan banyak mendapat serangan dari para pembencinya. Bukan hanya serangan darat tetapi juga udara. Bahkan kalau pun tidak secara dzohir kesalahannya maka dicari-cari kesalahan menurut pandangan mereka.

Tidak Mudah Menjadi NU, Butuh Kesabaran
Warga NU

Bagi saya ber-NU itu bukan sekedar berjamaah tetapi juga berjam'iyyah. Artinya bukan sekedar mengaku karena kebetulan sama dalam faham dan amaliyah Aswaja, karena kalau sekedar mengaku NU siapapun bisa melakukannya (dibahas nanti), tetapi harus disertai kesediaan berjam'iyyah nya atau organisasinya. Karena NU sejatinya adalah struktur bukan sekedar kultur karena kultur adalah aswajanya saja dan itu yang sudah ada sebelum NU berdiri.

Ketika saya kuliah di IAIN serta merta saya merasa sudah ber-NU hanya karena kesamaan faham dan amaliah yang dibawa dari kampung. Padahal saya belum mengerti NU dan siapa pengurusnya bahkan belum pernah aktif di organisasi NU dan banomnya atau mengikuti kegiatannya. Mungkin sikap inilah yang dimiliki oleh sebagian orang NU seperti yang pernah saya alami dulu. Namun fenomena yang aneh terjadi sekarang, dia tetap ngaku NU tetapi kerjaannya menyerang NU. Ibarat NU itu bangunan, dia mengaku pemilik bangunan itu tetapi tidak mau tinggal disana, bahkan kerjaannya melemparinya dengan alat yang digunakan dan dilakukan juga oleh para pembenci NU.

Disadari bahwa NU secara jam'iyyah yang terdiri dari banyak orang, sudah pasti memiliki kekurangan dan keterbatasan namun harus selalu perlu ikhtiar penyempurnaan. Dan itu akan terjadi sejalan perkembangan dan perubahan zaman, karena zaman, tempat dan orang selalu dinamis maka khidmah NU pun pasti mengalami dinamika.

Kalau beradaptasi dari hadits Nabi Saw yang berbunyi :
اغدوا عالما او متعلما او مستمعا او محبا ولا تكن خامسا فتهلك .
"Jadilah Engkau menjadi orang alim, atau pelajar atau pendengar yg baik atau jadi pencinta. Tapi jangan sekali-kali jadi orang kelima, niscaya akan ruksak."

Kalau diadaptasi artinya :
(1) Jadilah kau pengurus inti yang faham NU dan aktif mengurus NU. Atau (2) jadi santri (kader) NU sebagai penerus pengurus dalam perjuangan NU. Atau (3) jadi pendengar baik, artinya mengikuti berbagai kegiatan yg diselenggarakan NU meski tidak jadi pengurus NU. Atau (4) jadi pencinta NU, walau tidak pernah mengikuti kegiatan NU tetapi merasa bagian dari NU dalam mengaku NU disertai menjaga maruah NU, risau kalau ada yg menghina NU, lebih baik lagi kalau bisa membantu pendanaan dll.

Apalagi dia sudah menjadi kader NU maka dia tidak akan pernah meninggalkan NU dalam keadaan bagaimana pun. Tandanya, dia akan selalu gelisah berfikir dan bertindak agar NU bisa lebih baik atau paling tidak bisa bertahan. Perasaannya tidak enak kalau ada pihak-pihak yang menghina atau mengganggunya, baik di medsos, ceramah-ceramah mapun gerakan-gerakan. Dimana kah posisi kita?
Wallahu a'lam.

Artikel Lainnya

Back To Top