Budaya Berpeci dan Bersarung; Islam di Nusantara

Budaya Berpeci dan Bersarung; Islam di Nusantara

Salah satu kebiasaan masyarakat Islam di Nusantara adalah mengidentikan penggunaan sarung dan peci sebagai bagian dari simbol keislaman. Setiap orang yang memakai sarung dan peci dipresentasikan sebagai pribadi islami.

Budaya bersarung dan berpeci ini khas masyarakat islam di nusantara dan tidak ditemukan di negara muslim yang lain. Meski mungkin, penggunaan sarung dan peci memang ada juga di negara lain, misalnya di yaman, namun mengaitkannya sebagai simbol keislaman mungkin hanya familiar di nusantara.

Halnya gamis, jubah, sorban atau igal kepala, bagi kebanyakan masyarakat muslim di nusantara dianggap sebagai simbol keislaman. Bahkan lebih jauh banyak yang mengaitkannya sebagai pakaian para ulama dan wali. Pedahal di arab sendiri, gamis, jubah, sorban atau igal kepala adalah sebuah budaya berpakaian khas masyarakat arab. Bahkan budaya tersebut sudah ada sebelum islam datang. Dipakai bukan hanya oleh masyarakat muslim, tetapi juga non muslim.

Di arab, orang berjubah, bersorban dan berigal datang ke stadion untuk nonton bola atau ke hiburan malam untuk berpesta adalah hal lumrah. Karena berjubah dan bersorban adalah budaya berpakaian ciri khas masyarakat arab. Namun jika hal tersebut dilakukan di Nusantara mungkin tidak lazim, akan menjadi viral dan dianggap sebagai sebuah penistaan. Sebab masyarakat muslim Nusantara memiliki kecenderungan menganggap berjubah dan bersorban sebagai sesuatu yang erat kaitannya dengan identitas islami.

Kenapa hal tersebut bisa terjadi?

Mungkin, ini karena dakwah islam di Nusantara dulunya disebar oleh orang-orang berjubah (arab). Sehingga akhirnya ketika ada orang yang memakai jubah maka kemudian dianggap sebagai pemuka ajaran islam. Sebagaimana budaya berpeci dan bersarung yang biasa dipakai santri di pesantren menuntut ilmu agama. Maka ketika ada orang yang berpeci dan bersarung akan muncul anggapan yang dikaitkan dengan keislaman. Pedahal itu adalah budaya.

Demikianlah sebagian ciri khas dan karakteristik masyarakat Islam di Nusantara. Beragama dan berbudaya.

Artikel Lainnya

Back To Top