Santri Pesantren itu Luar Biasa!

Santri pesantren

Jika mendengar kata santri, apa yang muncul di benak Anda? Mungkin, mayoritas akan membayangkan figur anak muda mengenakan sarung, kemeja dan peci di kepala yang ditarik sedikit ke belakang hingga sebagian terlihat di atas jidat. Anda tidak sepenuhnya keliru. Memang mayoritas santri tampil seperti itu. Terutama di pondok-pondok pesantren tradisional.

Sebenarnya, sebutan santri tidak hanya dikenakan kepada mereka yang sedang menimba ilmu di pesantren. Santri lebih bermakna sebagai siapapun yang belajar dan mengikuti pemikiran seorang kyai atau pemimpin keagamaan.

Santri, hidup dalam banyak batasan. Sejak bangun pagi, harus beribadah hingga waktu ngaji atau sekolah tiba. Sore hari, mereka disibukkan dengan berbagai kegiatan pondok, lalu mengaji dan belajar di malam hari. Waktu tidur relatif singkat, menu makanan terbatas, dan tidak jarang tinggal dalam ruangan besar berisi belasan santri.

Tapi, banyak santri tidak lagi bersarung dan hanya pandai ilmu agama. Tak sedikit Santri yang bisa mewakili identitas santri yang lebih modern. Sekali-kali ia mengenakan sarung dan membaca kitab. Tetapi ia terlihat meyakinkan ketika tampil dengan jas dan berbicara di forum-forum internasional.

Pesantren adalah tempat membangun karakter. Sosok seorang Santri pasti akan banyak mendapatkan nilai humanis disamping ilmu agama. Juga belajar egaliter, persamaan nilai setiap orang di depan Tuhan dan persamaan derajat antara sesama manusia. Hal yang membentuk seperti itu, biasanya  karena terbiasa makan bersama dalam satu nampan dan tidur beralasan tikar di ruangan yang sempit tanpa memandang status sosial.

Pondok Pesantren juga mampu membuat seseorang memberikan penilaian orang lian berdasarkan tanggung jawab, tidak berdasarkan strata sosial atau posisi. Santri dididik tidak boleh memandang rendah rekan kerja yang di bawah.

Seorang Santri saat ini, juga harus menyadari, bahwa Pesantren sudah lama berperan dalam mengurangi kemiskinan ilmu di masyarakat. Saat ini, tantangannya adalah berperan lebih besar dalam mengurangi kemiskinan ekonomi. Santri tidak cukup belajar ilmu agama, tetapi juga harus memupuk jiwa wirausaha. Tidak mengherankan, jika di pondok pesantren ini mencangkul adalah salah satu pelajaran wajib.

Karena pada dasarnya mencangkul itu adalah bagian dalam rangka menumbuhkan etos kerja pada Santri. Nanti setelah etos kerjanya terbentuk, selanjutnya Pondok Pesantren akan memberikan keterampilan. Keterampilan yang diberikan itu bermacam-macam untuk Santri. Agar ketika keluar dari pesantren, Santri agar menjadi sosok yang selalu siap mengisi segala aspek kehidupan yang dibutuhkan di tengah-tengah masyarakat.

Sehingga, Pondok Pesantren memang lembaga pendidikan yang sangat kuat dalam pembentukan karakter. Pantauan selama 24 jam oleh para guru diyakini menjadi salah satu jawaban untuk dampak negatif dunia modern. Orang tua mencari kawasan tanpa telepon selular, minim media sosial, namun kaya dengan nilai-nilai kebersamaan, dan menemukan pesantren sebagai jawabannya.

Menjadi santri itu jangan takut tidak jadi apa-apa! Ngaji lah, maka akan jadi apa saja!

Sumber Facebook: Pesantren Albarokah

Artikel Lainnya

Back To Top