Mengenal Sosok Nyai Hj Masthi'ah, Istri Mbah KH Maimoen Zubair

Mengenal Sosok Nyai Hj Masthi'ah, Istri Mbah KH Maimoen Zubair

IBU NYAI HJ. MASTHI'AH (ISTRI KH. MAIMOEN ZUBAIR)
Nyai Hj. Masthi'ah

Berikut ini adalah kisah perjalanan hidup sosok tokoh yang sangat istimewa terkhusus di kalangan Pondok Pesantren Putri Al-Anwar Sarang yang mana sebagai lembaga pendidikan Islam yang selalu berusaha untuk mempersiapkan generasi penerus yang mumpuni ditengah masyarakat, maka sudah selayaknya menelusuri kisah tokoh pendiri lembaga tersebut merupakan sebuah keharusan yang sangat penting. Berikut sekilas jejak kehidupan Nyai Hj. Masti'ah yang merupakan istri dari Mbah KH Maimun Zubair.

Nama dan Silsilah

Ibu Nyai Hj. Masti’ah berasal dari keterunan Mbah Sambu Lasem yang selalu menomer satukan amal soleh dan peduli dengan lingkungan.

Beliau merupakan putri pertama dari Kiai Idris bin Kiai Umar bin Kiai Abdul Karim bin Ki Tawangsa bin Ahmad bin Muhammad bin Abdurrahman yang populer dengan sebutan Mbah Sambu Lasem.

Sang ayah Kiai Idris adalah putra dari pengasuh pondok di daerah Gagaan, Cepu, Jawa Tengah, selain mengaji pada ayahnya beliau juga pernah mengenyam pendidikan pesantren di daerah Cirebon, Jawa Barat.

Sekembalinya dari pesantren beliau mengajar di sekitar daerah Cepu. Kehidupan beliau di jalaninya dengan penuh kesederhanaan, segala amaliah sehari hari sangat menunjukkan akan keluhuran budinya. Beliau sangat ikhlas dalam mendidik anak-anak sekitar untuk mengaji di masjid Jami’ Cepu dan selalu berjuang untuk menjadikan putra-putri beliau menjadi orang yang alim dan dapat meneruskan estafet perjuangan para ulama.

Ibu beliau bernama Rusmini bertempat tinggal di daerah Cepu, Ibu Rusmini adalah sosok wanita yang rajin beribadah, puasa senin kamis tak pernah ditinggalkannya, dan riyadhoh merupakan kebiasaan yang selalu dijalaninya. Beliau juga istiqomah melakukan sholat tahajjud di tengah malam bersama suami, Kiai Idris. Bahkan bila anak-anaknya sedang ujian sekolah, maka sang ibu ini pasti berpuasa setiap hari hingga ujian selesai.

Menengok konsisten beliau dalam beribadah, tak mengherankan berbagai isyarat selalu dialami setiap hamil terutama saat mengandung bayi yang bernama Masthi’ah, beliau merasa menerima cincin dari Rasulullah SAW di tengah keheningan malam mengiringi nyeyaknya tidur setiap makhluk sejagat raya. Dan seketika itu beliau bangun dan merenung cikal bakal apa yang kelak lahir.

Dikemudian hari Ibu Rusmini berkunjung ke rumah kakeknya bernama KH. Siroj yang terkenal alim dan menceritakan perihal mimpi yang pernah dialaminya. KH. Siroj memaparkan dengan tersenyum menaruh harap dan yakin akan jabang bayi yang lahir menjadi sosok yang sholeh-sholehah, yang tangguh dan tabah dalam menghadapi setiap problem. Melihat dan mendengar semua ini tak pelak kebahagiaan beliau begitu nampak disaat kelahiran sang bayi dan diberi nama Masthi’ah atas pengarahan dan pemberian KH. Siroj yang tak lain adalah pamannya sendiri. Ibu Nyai Hj. Masthi’ah lahir pada tahun 1945 M disaat Indonesia sedang dalam keadaan kemelut mempertahankan kemerdekaan, bersamaan pula sang kakek bernama kiai Umar mengemban tugas dari KH. Mahrus Aly Lirboyo sebagai prajurit untuk menumpas tentara sekutu yang ternyata diboncengi tentara Belanda karena masih ingin menjajah Nusantara tercinta. Tak aneh jika berpengaruh terhadap kejiwaan sang bayi.

Pasca kelahiran berkisar tiga hari kemudian Kiai Umar sang kakek pulang dari medan pertempuran yang melelahkan, dan betapa bahagianya saat mendengar kabar kelahiran cucu pertama perempuan dengan spontan beliau berkata ” waah…wes ora suwe aku iki, kabeh putuku lanang saiki wedok” ( wah…cucuku semua laki-laki, sekarang telah lahir perempuan, maka hidupku tidak akan lama lagi) kebahagiaan beliau begitu kentara dengan selalu menggendong dan menimang serta menyayanginya. Tidak lama berselang, sang kakek Kiai Umar kembali keharibaan alloh swt.

Hari demi hari beliau telah berlalu, bulan dan tahun berganti mengiringi perkembangan sang bayi, tumbuhlah sang putri cantik nan jelita yang setiap mata tak jenuh memandang, tak peduli itu saudara yang keluarga maupun tetangga, hingga sang ibu jarang dapat menggendong dan memantaunya langsung, kelincahan dan kemuliaan budi pekerti beliau telah tumbuh semenjak beliau masih kecil, sehingga setiap insan merasa senang dan selalu ingin mengajaknya bermain serta bersilaturahim, dan kebiasaan itu telah mendarah daging yang mengantarkannya menjadi sosok wanita yang fleksibel, menjadi panutan masyarakat ditempat kelahirannya dan juga disaat membina rumah tangga.

Pendidikan

Saat masih kecil, Ibu Nyai Masthi'ah menerima pendidikan dikampungnya cepu, dibawah asuhan ayah dan ibunya. Setelah itu mengaji kepadanya yang telah sekian lama berharap untuk dapat mendidiknya sejak kecil. Ibu Nyai Masthi’ah selain sebagai keponakan, beliau adalah sosok santri yang istimewa dan disanyangi. Setelah dirasa cukup menginjak usia remaja sang ayah mengantarkannya untuk mencari ilmu di luar daerah dan masuk ke Pondok Pesantren Termas, sebuah daerah yang kala itu banyak memunculkan tokoh-tokoh ulama handal, yang menguasai dalam segala bidang ilmu dan diantara yang termasyhur adalah KH. Mahfudz at – turmusy. Termas juga terkenal akan pesantren yang penuh tirakat, apalagi dengan kondisi penduduk sekitarnya yang makanan pokoknya singkong diolah sebagai menu pokok setiap hari hingga zakat fitrah yang dikeluarkan di bulan Romadhon juga berupa singkong bukan padi atau beras.

Setelah tiga tahun lamanya menjalani kehidupan pesantren, hal serupa dialaminya lagi yaitu sebuah predikat sebagai santri kesayangan disandangnya, berkat kemampuannya menempatkan diri pada posisi sebagai wanita sholihah, dan kegigihan cengkir (kencenge piker) tak sedikit kawan-kawannya yang menilai Ibu Nyai Masthi’ah adalah sosok wanita cerdas, gesit, lincah, pantang menyerah dan peduli pada sesama. Semua ini beliau miliki karena suatu tuntutan keadaan yang mengharuskan untuk tidak bergantung pada orang lain dan harus mengurus adik-adiknya yang masih kecil.

Dari Termas inilah Ibu Nyai Masthi’ah telah terbiasa dengan kemandiriannya, tirakat, makan makanan tiwul (makanan yang berbuat dari gaplek) selama tiga tahun begitu pula berbagai riyadhoh serta perjuangna lain yang menjadikan seseorang dapat menahan diri dari melakukan perbuatan yang tidak terpujii dan bersikap arif dalam setiap situasi dan kondisi.

Sekembalinya dari Termas, setiap ada kesempatan tholabul ilmi tidak akan disia-siakannya. Kepopuleran KH. Ma’shum Lasem yang alim dalam bidang al-qur’an dan tafsirnya menjadikan nurani Ibu Nyai Mashti’ah terketuk untuk pergi belajar dan berkhidmah kepada ahlil ilmi.

Setiap hari belajar al-qur’an bersama ibu Nyai Nuriyah Ma’shum dan keilmuan lain juga beliau terima terlebih ilmu haliyah (tingkah laku) banyak beliau peroleh melalui tata cara mendidik dan segala bentuk keseharian yang dipenuhi dengan nuansa keilmuan. Segala bimbingan dan perintah dijalani dengan penuh tawadhu’ dan selalu mengambil hikmah untuk bekal kembali ke kampung halaman yang kala itu masih hangat-hangatnya faham komunisme dan bertekad kelak ilmu yang diperoleh akan ditularkan kepada putra-putrinya demi mengibarkan bendera islam.

Rumah Tangga

Kecintaannya terhadap lingkungan dan berbagai disiplin ilmu membuat setiap mata meneropong, tak mengherankan juga dalam masa mudanya, banyak laki-laki yang datang kepada Kyai Idris untuk meminangnya. Tetapi yang mendapat kebahagiaan untuk meminangnya adalah KH. Abdul Qodir dari Kudus.

Sebagaimana kisah yang diceritakan dimuka, Kyai Idris adalah orang yang mahir dalam bidang al-qur’an. Suatu hal yang wajar bahwa Kyai Idris menerima KH. Abdul Qodir sebagai menantunnya setelah melalui proses yang sangat selektif. Dikisahkan Kyai Idris sebelum menerima menantu terlebih dahulu menguji sendiri akan keahlian dalam bidang al-qur’an yang dimiliki oleh KH. Abdul Qodir. Di kemudian hari akad nikah mengikuti sunah Rasul dilaksanakan dengan Khidmah.

Indahnya kehidupan dengan rajutan cinta yang selalu mengalir menelusuri waktu yang kian melaju kedepan. Kebahagiaan kedua pasangan selalu tersenandung dalam butiran-butiran doa, mengaharap kekalnya mawaddah hingga akhir hayat dan bertemu kembali dipertamanan surga. Bahtera rumah tangga terasa semakin berarti dengan lahirnya putri pertama bernama Nurus Shobah, sebuah anugerah dari-Nya sebagai amanah yang harus diembannya.

Perjalanan hidup tak ubahnya alam semesta yang terus tidak ada sesuatu di dunia ini yang tetap pada tempatnya. Bumi bergerak mengitari matahari, bulan bergerak mengitari bumi, bahkan mungkin matahari pun bergerak mengitari planet lain yang lebih besar. Semua berjalan menurut kekuasaan dan kehendak Allah SWT yang Maha Bijaksana. Senada dengan itu mahligai rumah tangga bahagia yang telah dibina, bersamaan dengan kehamilan yang kedua, Allah berkehendak lain. Memang inilah sunnatullah yang harus dijalani Ibu Nyai Masthi’ah dengan ikhlas dan tabah.

Semasa menjanda, dengan kondisi hamil ternyata tidak sampai mengurangi rasa cinta dan kepeduliannya pada lingkungan, semangat juang untuk syi’ar Islam semakin berkobar, dalam benaknya selalu berfikir dan merenung bagaimana caranya Islam dapat tampak ramai di bumi Cepu, mengingat faham komunis masih dominan dan harus dicarikan jalan keuluar sehingga setiap ada kesempatan yang berbau syiar Islam, Ibu Nyai Masthi’ah selalu eksis dan eksistensinya pun begitu nampak dengan bergelutnya beliau pada organisasi yang menunjang aktifitasnya. Sebagai contoh ikut meramaikan perlombaan qiro’ah Al-Qur’an sekabupaten Blora yang pulang dengan acungan jempol, senyuman manis karena berhasil meraih juara satu tingkat kabupaten, kemudian dengan berjalannya waktu yang sarat akan perjuangan sebuah majlis ta’lim mulai dari anak-anak hingga para ibu telah dirintisnya.

Kehidupan mengisi kita dan membawa kita dan membawa kita dari satu tempat ke tempat lain, nasib menggerakkan kita dari satu titik ke titik lain. Berkat berkaca pada pengalaman selama belajar dulu dan perpijak pada situasi waktu itu apalagi hangat-hangatnya faham komunisme dengan langkah pasti selepas kelahiran sang jabang bayi yang diberi nama Nur Laila, Ibu Nyai Masthi’ah meneruskan dakwahnya. Dalam setiap langkah, beliau jalani dengan penuh kelembutan yang selalu menaruh harapan akan sinar hidayah Islam dapat berlabuh di hati setiap insan, hingga berhasil meluluhlantakkan nurani dua orang yang berkebangsaan Tionghoa untuk memeluk Islam dan beliau menuntunnya langsung pembacaan dua kalimah syahadat dan hingga sampai saat ini salah satu dari orang tersebut masih hidup di wilayah Cepu dengan nama Ibu Dasih.

Sebagai manifestasi rasa Syukur kepada Allah dzat al-Halim dan ucapan terima kasih kepada Ibu Nyai Masthi’ah akan bimbingannya dalam menuntun kepada Dinul Islam, kedua orang Tionghoa merelakan rumahnya yang terbilang mewah saat itu untuk dijadikan majlis taklim dan kegiatan sosial keagamaan lainnya yang telah diasuh oleh Ibu Nyai Masthi’ah pada masa itu.

Meskipun kegiatan di luar rumah begitu padat, perhatiannya pada akik-adiknya seakan tak pernah surut. Mengais rizki untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari juga dilaluinya dengan perjuangan. Sementara status janda tidak sampai menumbuhkan rasa pesimisme dalam dirinya. Dan tanpa disadari segala upaya dan aktifitas yang telah dijalaninya ternyata menarik simpati setiap insan. Banyak yang ingin meminang beliau, tapi belum ada yang diterima karena trauma akan kegagalan rumah tangga. Hingga akhirnya datang pinangan dari Putra KH. Zubair dari Sarang Rembang bernama KH. Maimoen Zubair yang tertarik akan jiwa juang dan kemuliaan hatinya. Maka datanglah beliau ke kediaman Kyai Idris untuk meminang putrinya.

Bagai dayung bersambut, maksud KH. Maimoen Zubair ini langsung diterima dengan senang hati oleh Kyai Idris, karena sudah diketahui akan kealimannya. Disamping juga sebagai guru dari saudara Ibu Nyai Masthi’ah yaitu Kyai Taftazani yang waktu itu mondok di Sarang, selain itu sebelumnya Kyai Idris sempat sowan kepada Mbah KH. Hamid Pasuraun yang bertujuan untuk mengutarakan problem rumah tangga putrinya. Beliau didawuhi oleh KH. Hamid dan sebelum sempat mengutarakan maksud kedatangannya “pulang sana! Mau diambil oleh wali tertutup kok malah kesini.”.

Artikel ini dikutip dari buku “Menyibak Al-Anwar Putri dalam Potret Sejarah” dengan sedikit perubahan redaksi.

#ppalanwarsarang #santrisarang #santripesisir #santriindonesia #santri #haul #bumasthiah

Sumber FB: Pondok Pesantren al-Anwar Sarang

Bagikan:

Artikel Lainnya: