Dzikir “Hashontukum” dan Penjelasannya

Dzikir “Hashontukum” dan Penjelasannya
Ilustrasi berdzikir dan berdoa.

حَصَنْتُكُمْ بِالْحَيِّ الْقَيُّوْمِ الَّذِيْ لَا يَمُوْتُ أَبَدَا وَدَفَعْتُ عَنْكُمُ السُّوْءَ بِأَلْفِ أَلْفِ أَلْفِ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ الْعِلِيِّ الْعَظِيْمِ
Artinya:
“Aku menjaga kalian dengan kekuatan Dzat yang maha hidup lagi perkasa yang tidak akan mati selamanya dan aku menolak keburukan (agar menjauh) dari kalian dengan beribu-ribu laa haula wa laa quwwata illaa billaahil ‘aliyyil ‘adhiim

Bagi santri Al Fithrah maupun Jamaah Al Khidmah tentu tidak asing dengan dzikir Hashantukum yang dibaca setelah shalat maghrib, subuh maupun setelah khususi, karena dzikir itu sudah menjadi wadhifah sehari-hari yang dituntunkan oleh Hadhratusy Syaikh Romo KH Ahmad Asrori Al Ishaqi.

Namun mungkin ada atau banyak di antara kita yang belum tahu makna, hakikat maupun tujuan dari dibacanya dzikir itu.

Sejauh penelusuran kami, dzikir Hashantukum ini terdapat dalam kitab al-Adzkar karya Imam An Nawawi (w. 676 H.),  al-Iqna’ dan Mughnil Muhtaj karya Ahmad asy-Syirbini al-Khathib (w. 977 H.), Hasyiyah al-Bujayrami karya Sulaiman al-Bujayrami (w. 1221 H.) dan I’anatuth Thalibin karya Sayyid al-Bakri (w. setelah tahun 1302 H.). Semuanya mengutip dari keterangan yang disampaikan oleh al-Qadhi Husain (w. 462 H.) dalam kitabnya at-Ta’liq.

Dalam kitab al-Adzkar, Imam Nawawi mengutip pernyataan al-Qadli Husain, dimana beliau  mengisahkan bahwa pada suatu hari ada seorang Nabi AS yang memandang kaumnya. Kaum Nabi itu bertambah banyak hingga membuatnya takjub. Namun dalam sekejap tujuh puluh ribu dari kaumnya itu meninggal dunia. Lalu Allah SWT memberikan wahyu kepadanya seraya berfirman:

“Sesungguhnya pandanganmu telah menyebabkan mereka meninggal. Seandainya engkau memandang mereka, lalu melindungi mereka tentu mereka tidak akan binasa.” Nabi itu berkata: “Dengan apa aku melindungi mereka?” Maka Allah memberikan wahyu kepada Nabi itu seraya berfirman: “Ucapkanlah: ‘Hashantukum bil hayyil qayyuumilladzii laa yamuutu abada wa dafa’tu ‘ankumus suu’a bi la haula ea laa wuwwata illa billahil ‘aliyyil ‘adhiim’ (aku menjaga kalian dengan kekuatan Dzat yang maha hidup lagi perkasa yang tidak akan mati selamanya dan aku menolak keburukan (agar menjauh) dari kalian dengan laa haula walaa quwwata illaa billaahil ‘aliyyil ‘adhiim)”

Dalam riwayat yang dikutip oleh Imam Nawawi tidak mencantumkan alfi. Sementara dalam riwayat yang dikutip oleh asy-Syirbini al-Khatib dan Sayyid Bakri mencantumkan alfi, namun hanya sekali. Penyebutan alfi alfi alfi tiga kali dalam dzikir Hashantukum yang dituntunkan Hadhratusy Syaikh menurut kami lebih kepada penekanan agar lebih mantap.

Imam Nawawi sendiri dalam kitabnya al-Adzkar memasukkan wirid ini pada bab “Bab tentang apa yang diucapkan seseorang ketika ia melihat sesuatu pada dirinya atau anaknya atau hartanya atau yang lainnya, lalu ia mengaguminya dan khawatir akan terjadi sesuatu yang dapat membahayakannya karena pandangannya itu”. Pada bab ini, Imam Nawawi memulainya dengan menampilkan hadis yang menegaskan bahwa al-‘Ain (penyakit yang timbul dari pengaruh jahat pandangan mata) adalah nyata. Dalam hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim, Nabi SAW bersabda:

 “Penyakit 'ain (yang disebabkan oleh sorotan mata yang dengki) adalah haq (benar)." [HR. Bukhari dan Muslim].

Dalam riwayat lain disebutkan:

“Penyakit 'ain (yang disebabkan oleh sorotan mata yang dengki) adalah haq (benar), syaitan dan kedengkian anak Adam hadir (berperan) pada penyakit itu.” [HR. Ath Thabrani dalam Musnad Asy Syamiyyin]

Dalam sebuah hadis riwayat Al Bukhari, dari Ibnu ‘Abbas, beliau berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يُعَوِّذُ الْحَسَنَ وَالْحُسَيْنَ وَيَقُولُ إِنَّ أَبَاكُمَا كَانَ يُعَوِّذُ بِهَا إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّةٍ.
Artinya:
“Bahwa Nabi SAW biasa memohonkan perlindungan untuk Hasan dan Husein (dua cucu Beliau) dan berkata; "Sesungguhnya nenek moyang kamu pernah memohonkan perlindungan untuk Isma'il dan Ishaq dengan kalimat ini: A'uudzu bi kalimaatillaahit taammati min kulli syaitaani wa haammatin wa min kuli 'ainin laammah’ (Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari setiap syaitan dan segala makhluk berbisa dan begitupun dari setiap mata jahat yang mendatangkan petaka).”

Dalam riwayat yang lain Nabi SAW berdoa minta perlindungan untuk Hasan dan Husain, beliau membaca:

"U'iidzukumaa bikalimaatillaahit taammah min kulli syaithaanin wa haammatin wa min kulli 'ainin laamatin (Aku memohon perlindungan kepada Allah untuk kalian berdua dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna, dari setiap kejahatan setan dan binatang bisa yang mematikan, dan dari setiap mata yang hasud). Kemudian beliau bersabda: "Dahulu bapak kalian (Ibrahim) juga pernah minta perlindungan dengan keduanya untuk anaknya; Isma'il dan Ishaq."

Dari keterangan beberapa hadis di atas dapat disimpulkan bahwa pandangan mata seseorang -atas izin Allah SWT tentunya- dapat membahayakan orang lain. Namun pandangan yang dapat membahayakan ini hanyalah pandangan yang disertai dengan rasa dengki atau rasa takjub terhadap objek yang dipandang. Tentang pandangan yang dapat membahayakan ini juga dikisahkan oleh Allah SWT dalam al-Qur’an, dimana Allah SWT berfirman:

وَإِنْ يَكَادُ الَّذِينَ كَفَرُوا لَيُزْلِقُونَكَ بِأَبْصَارِهِمْ لَمَّا سَمِعُوا الذِّكْرَ وَيَقُولُونَ إِنَّهُ لَمَجْنُونٌ.
Artinya:
“Dan sesungguhnya orang-orang kafir itu benar-benar hampir menggelincirkan kamu dengan pandangan mereka, tatkala mereka mendengar al-Quran dan mereka berkata: "Sesungguhnya ia (Muhammad) benar-benar orang yang gila.” [QS. Al Qalam: 51].

Menurut kebiasaan yang terjadi di tanah Arab, seseorang dapat membinasakan binatang atau manusia dengan menujukkan pandangannya yang tajam. Hal ini hendak dilakukan pula kepada Nabi Muhammad SAW, akan tetapi Allah SWT memeliharanya, sehingga terhindar dari bahaya itu, sebagaimana dijanjikan Allah dalam surat Al-Maidah ayat 67. Kekuatan pandangan mata itu pada masa sekarang dikenal dengan hypnotisme.

Dalam sebuah riwayat dari Shuhaib, Rasulullah SAW pada hari Hunain menggerakkan kedua bibirnya setelah menunaikan shalat Fajar, suatu pemandangan yang belum pernah terlihat sebelumnya. Maka para sahabat berkata, "Wahai Rasulullah, kami melihat Anda melakukan sesuatu yang belum pernah Anda lakukan sebelumnya. Apa maksud Anda menggerakkan kedua bibir Anda?" Beliau menjawab: "Sesungguhnya para Nabi sebelum (masa) kalian terkagum-kagum akan banyaknya umatnya. Maka Nabi itu pun berkata, 'Mereka ini tidaklah diinginkan oleh sesuatu pun.' Akhirnya Allah mewahyuhkan padanya, 'Hendaknya kamu memilih salah satu dari tiga hal yaitu; mereka dikalahkan oleh musuh dari selain golongan mereka dan membinasakan mereka. Atau (mereka ditimpa) kelaparan, ataukah kematian yang akan menjemput mereka.' Maka sang Nabi itu pun bermusyawarah dengan mereka. Mereka berkata, 'Adapan musuh, maka tidak ada ketaatan kami terhadap mereka. Sedangkan kelaparan, maka kami tidak akan sabar atasnya. Akan tetapi (biarlah kami dijemput) oleh kematian.' Setelah itu, Allah pun mengirimkan kematian atas mereka. Sehingga yang meninggal dari mereka dalam waktu tiga hari mencapai tujuh puluh ribu orang." Rasulullah SAW bersabda: "Maka sekarang aku akan berdoa -saat melihat banyaknya jumlah mereka-, 'Allahumma bika uhaawil wabika ushaawil wabika uqaatil (Ya Allah, kepada-Mulah kuserahkan segala daya dan upaya, dengan-Mulah kami menyerang, dan dengan (kekuatan-Mulah) kami berperang).'" [HR. Ahmad dll.]

Dari urain di atas kita dapat menangkap bahwa tujuan dzikir Hashantukum adalah untuk melindungi orang-orang yang ada di sekitar kita, baik itu anak, keluarga, murid dan lain sebagainya agar terhindar dari hal-hal yang dapat membahayakan mereka karena disebabkan pandangan orang-orang yang dengki, sihir maupun gangguan jin dengan berkah la haula wala quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘adhim. Wallahu a’lam. (Kdi-BAF)

Oleh: Muhammad Khudhori al-Tsubuty
Editor: Ang Rifkiyal

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel