40 Hadits Tentang Menuntut Ilmu

40 Hadits Tentang Menuntut Ilmu

40 Hadits Tentang Menuntut Ilmu dan Keutamaannya

Kedudukan ilmu dalam agama islam sangat luhur. Banyak sekali nash baik dalam al-Qur'an maupun al-Hadits yang membahas tentang pentingnya ilmu dan keutamaan bagi orang-orang yang memilikinya. Diantaranya Allah SWT telah menegaskan tentang derajat orang berilmu sebagaimana dalam QS. al-Mujadalah: 11,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَكُمْۚ وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ

Artinya:
Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, “Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,” maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, “Berdirilah kamu,” maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha teliti apa yang kamu kerjakan. (QS. al-Mujadalah: 11)

Dan banyak sekali dalil-dalil dari Hadits Nabi Muhammad SAW yang membicarakan tentang ilmu dan keutamaannya. 

Diantara hadits-hadits tersebut, kami kutip 40 diantaranya yang bisa dijadikan pedoman bagi kaum muslimin. Berikut ini 40 Hadits tentang menuntut ilmu dan keutamaan ilmu:

Tentang Ilmu


1. Wajibnya Belajar
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
Artinya, “Menuntut ilmu agama adalah kewajiban atas setiap Muslim.” (Shahih: HR. Ibnu Majah no. 224)

2. Doa Minta Ilmu Bermanfaat
اللَّهُمَّ انْفَعْنِي بِمَا عَلَّمْتَنِي، وَعَلِّمْنِي مَا يَنْفَعُنِي، وَزِدْنِي عِلْمًا
Artinya, “Ya Allah, berilah manfaat ilmu yang Engkau ajarkan kepadaku dan ajarilah aku ilmu yang bermanfaat bagiku serta tambahkanlah aku ilmu.” (Shahih: HR. At-Tirmidzi no. 3599)

3. Yang Terbaik yang Paham Agama
خِيَارُهُمْ فِي الجَاهِلِيَّةِ خِيَارُهُمْ فِي الإِسْلاَمِ، إِذَا فَقُهُوا
Artinya, “Yang terbaik dari mereka di masa Jahiliyah adalah yang terbaik dari mereka di masa Islam, asal mereka faqih.” (HR. Al-Bukhari no. 3353 dan Muslim no. 2378)

4. Ilmu Lebih Utama daripada Amal
إِنَّكُمْ قَدْ أَصْبَحْتُمْ فِي زَمَانٍ كَثِيرٍ فُقَهَاؤُهُ، قَلِيلٍ خُطَبَاؤُهُ، كَثِيرٍ مُعْطُوهُ، قَلِيلٍ سُؤَّالُهُ، الْعَمَلُ فِيهِ خَيْرٌ مِنَ الْعِلْمِ، وَسَيَأْتِي زَمَانٌ قَلِيلٌ فُقَهَاؤُهُ، كَثِيرٌ خُطَبَاؤُهُ، كَثِيرٌ سُؤَّالُهُ، قَلِيلٌ مُعْطُوهُ، الْعِلْمُ فِيهِ خَيْرٌ مِنَ الْعَمَلِ
Artinya, “Sungguh kalian sekarang benar-benar berada di sebuah zaman yang banyak orang-orang faqihnya, sedikit para penceramahnya, banyak para pemberi, dan sedikit para peminta-minta. Amal di masa ini lebih baik daripada ilmu. Akan datang sebuah zaman nanti di mana sedikit orang-orang faqihnya, banyak para penceramahnya, sedikit para pemberi, dan banyak para peminta-minta. Ilmu di masa itu lebih baik daripada amal.” (Shahih: HR. Ath-Thabrani no. 3111)

5. Tanda Munafiq Bodoh Agama
خَصْلَتَانِ لَا تَجْتَمِعَانِ فِي مُنَافِقٍ، حُسْنُ سَمْتٍ، وَلَا فِقْهٌ فِي الدِّينِ
Artinya, “Dua perkara yang tidak akan berkumpul pada diri seorang munafik, yaitu banyak diam dan faqih dalam agama.” (Shahih: HR. At-Tirmidzi no. 2684)

6. Ilmu Jariyah
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
Artinya, “Apabila anak Adam meninggal dunia maka terputus semua amalnya (tidak bisa lagi menambah pahala) kecuali 3 orang, yaitu shadaqah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan orang, atau anak shalih yang mendoakan orangtuanya.” (HR. Muslim no. 1631)

7. Keutamaan Miskin Dibarengi Ilmu
إِنَّمَا الدُّنْيَا لِأَرْبَعَةِ نَفَرٍ، عَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ مَالًا وَعِلْمًا فَهُوَ يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ، وَيَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ، وَيَعْلَمُ لِلَّهِ فِيهِ حَقًّا، فَهَذَا بِأَفْضَلِ المَنَازِلِ، وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ عِلْمًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ مَالًا فَهُوَ صَادِقُ النِّيَّةِ يَقُولُ: لَوْ أَنَّ لِي مَالًا لَعَمِلْتُ بِعَمَلِ فُلَانٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَأَجْرُهُمَا سَوَاءٌ، وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ مَالًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ عِلْمًا، فَهُوَ يَخْبِطُ فِي مَالِهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ لَا يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ، وَلَا يَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ، وَلَا يَعْلَمُ لِلَّهِ فِيهِ حَقًّا، فَهَذَا بِأَخْبَثِ المَنَازِلِ، وَعَبْدٍ لَمْ يَرْزُقْهُ اللَّهُ مَالًا وَلَا عِلْمًا فَهُوَ يَقُولُ: لَوْ أَنَّ لِي مَالًا لَعَمِلْتُ فِيهِ بِعَمَلِ فُلَانٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَوِزْرُهُمَا سَوَاءٌ
Artinya, “Dunia itu milik empat golongan, yaitu [1] seseorang yang Allah beri ilmu dan harta lalu dia bertakwa kepada Allah, menyambung silaturrahmi, dan mengetahui hak Allah pada harta tersebut. Orang ini yang paling utama kedudukannya di sisi Allah. [2] Seseorang yang Allah beri ilmu tetapi tidak diberi harta lalu dia berkata, ‘Andai aku punya harta aku akan melakukan seperti amal fulan.’ Karena niat baiknya itu, dia dan orang pertama sama dalam pahala. [3] Seseorang yang Allah beri harta tetapi tidak diberi ilmu lalu dia memboroskan harta itu tanpa bertakwa kepada Allah, tidak menyambung silaturrahmi, dan tidak tahu hak Allah pada harta itu. Orang ini kedudukannya paling buruk di sisi Allah. [4] Seseorang yang tidak diberi Allah harta dan ilmu lalu berkata, ‘Andai aku punya harta aku akan melakukan seperti amal fulan.’ Karena niat buruknya itu, keduanya sama dalam dosa.” (Shahih: HR. At-Tirmidzi no. 2325)

8. Larangan Kerja Tanpa Ilmu
قَالَ عُمَرُ بْنُ الخَطَّابِ: «لَا يَبِعْ فِي سُوقِنَا إِلَّا مَنْ قَدْ تَفَقَّهَ فِي الدِّينِ»
Artinya, Umar bin Khathab berkata, “Tidak boleh melakukan transaksi jual-beli di pasar kami kecuali orang yang paham agama.” (Hasan: HR. At-Tirmidzi no. 487)

9. Pertanggungjawaban Atas Ilmu
لَا تَزُولُ قَدَمُ ابْنِ آدَمَ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ، عَنْ عُمُرِهِ فِيمَ أَفْنَاهُ، وَعَنْ شَبَابِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ، وَمَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ، وَمَاذَا عَمِلَ فِيمَا عَلِمَ
Artinya, “Kaki anak Adam tidak akan bergeser pada hari Kiamat dari sisi Rabb-nya hingga ditanya tentang lima hal: tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang masa mudanya untuk apa ia gunakan, hartanya dari mana dia peroleh dan ke mana dia salurkan, dan tentang ilmunya apakah sudah diamalkan.” (Hasan: HR. At-Tirmidzi no. 2416)

10. Menulis Ilmu
قَيِّدُوا الْعِلْمَ بِالْكِتَابِ
Artinya, “Ikatlah ilmu dengan tulisan.” (Shahih: HR. Al-Qadha’i no. 637 dan Ash-Shahihah no. 2026)

11. Ambisi Ilmu
مَنْهُومَانِ لَا يَشْبَعَانِ: مَنْهُومٌ فِي عِلْمٍ لَا يَشْبَعُ، وَمَنْهُومٌ فِي دُنْيَا لَا يَشْبَعُ
Artinya, “Dua ambisi yang tidak pernah kenyang, yaitu ambisi ilmu tidak akan kenyang dan ambisi dunia tidak akan kenyang.” (Shahih: HR. Al-Hakim no. 312)

12. Ilmu Perlu Dicari
إِنَّمَا الْعِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ، وَإِنَّمَا الْحِلْمُ بِالتَّحَلُّمِ، مَنْ يَتَحَرَّى الْخَيْرَ يُعْطَهُ، وَمَنْ يَتَّقِ الشَّرَّ يُوقَهُ             
Artinya, “Ilmu itu hanya (diperoleh) lewat belajar, sementara kesantunan lewat berusaha santun. Siapa yang melatih diri dengan kebaikan maka ia akan diberi dan siapa yang menjaga diri dari keburukan maka ia akan dijaga.” (Shahih: HR. Ath-Thabrani no. 2663)

13. Bertanya Kunci Ilmu
فَإِنَّمَا شِفَاءُ الْعِيِّ السُّؤَالُ
Artinya, “Sungguh obat kebodohan adalah bertanya.” (Shahih: HR. Abu Dawud no. 336)

14. Belajar Lebih Besar Pahalanya dari Beribadah
فَضْلُ الْعِلْمِ خَيْرٌ مِنْ فَضْلِ الْعِبَادَةِ، وَخَيْرُ دِينِكُمُ الْوَرَعُ
Artinya, “Keutamaan ilmu lebih baik daripada keutamaan ibadah, dan agama terbaik bagi kalian adalah wara.” (Hasan: HR. Al-Hakim no. 317)

15. Baca Satu Ayat Melebihi Sedekah Satu unta
أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنْ يَغْدُوَ كُلَّ يَوْمٍ إِلَى بُطْحَانَ، أَوْ إِلَى الْعَقِيقِ، فَيَأْتِيَ مِنْهُ بِنَاقَتَيْنِ كَوْمَاوَيْنِ فِي غَيْرِ إِثْمٍ، وَلَا قَطْعِ رَحِمٍ؟، فَقُلْنَا: يَا رَسُولَ اللهِ نُحِبُّ ذَلِكَ، قَالَ: أَفَلَا يَغْدُو أَحَدُكُمْ إِلَى الْمَسْجِدِ فَيَعْلَمُ، أَوْ يَقْرَأُ آيَتَيْنِ مِنْ كِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، خَيْرٌ لَهُ مِنْ نَاقَتَيْنِ، وَثَلَاثٌ خَيْرٌ لَهُ مِنْ ثَلَاثٍ، وَأَرْبَعٌ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَرْبَعٍ، وَمِنْ أَعْدَادِهِنَّ مِنَ الْإِبِلِ
Artinya, “Siapa di antara kalian yang suka pergi setiap hari di waktu pagi ke Buth-han atau ke Aqiq lalu pulang membawa dua unta bunting tanpa dosa dan memutus silaturrahmi?” Kami menjawab, “Wahai Rasulullah, kami suka itu.” Jawab beliau, “Kenapa kalian tidak saja pergi ke masjid untuk belajar atau membaca dua ayat dari Kitabullah, karena hal itu lebih baik baginya daripada dua unta bunting, tiga lebih baik dari tiga, empat lebih baik dari empat, yaitu sebanyak hitungan unta.” (HR. Muslim no. 803)


Tentang Pelajar

16. Berpahala Seperti Haji Sempurna
مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ لَا يُرِيدُ إِلَّا أَنْ يَتَعَلَّمَ خَيْرًا أَوْ يُعَلِّمَهُ، كَانَ لَهُ كَأَجْرِ حَاجٍّ تَامًّا حِجَّتُهُ
Artinya, “Siapa yang bersegera pergi ke masjid hanya untuk tujuan belajar kebaikan atau mengajarkannya maka ia mendapatkan pahala seperti orang yang haji secara sempurna.” (Shahih: HR. Ath-Thabrani no. 7473 dalam Al-Mu’jam Al-Kabir)

17. Paham Agama Tanda Dicintai Allah
مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ، وَإِنَّمَا أَنَا قَاسِمٌ وَاللَّهُ يُعْطِي، وَلَنْ تَزَالَ هَذِهِ الأُمَّةُ قَائِمَةً عَلَى أَمْرِ اللَّهِ، لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَالَفَهُمْ، حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ
Artinya, “Siapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya maka Dia akan menjadikannya mendalami agama. Aku hanya berbagi dan Allah yang memberi. Akan senantiasa ada sekelompok dari umat ini yang tegak di atas perintah Allah, orang yang menyelisihi mereka tidak akan membahayakan mereka hingga datang hari Kiamat.” (HR. Al-Bukhari no. 3971 dan Muslim no. 1037)

18. Disambut Rasulullah
مَرْحَبًا بطالبِ الْعِلْمِ، طَالِبُ الْعِلْمِ لَتَحُفُّهُ الْمَلَائِكَةُ وَتُظِلُّهُ بِأَجْنِحَتِهَا، ثُمَّ يَرْكَبُ بَعْضُهُ بَعْضًا حَتَّى يَبْلُغُوا السَّمَاءَ الدُّنْيَا مِنْ حُبِّهِمْ لِمَا يَطْلُبُ
Artinya, “Selamat datang wahai penuntut ilmu. Sesungguhnya penutup ilmu benar-benar ditutupi para Malaikat dan dinaugi dengan sayap-sayapnya. Kemudian mereka saling bertumpuk-tumpuk hingga mencapai langit dunia (langit paling dekat dari bumi), karena kecintaan mereka (Malaikat) kepada ilmu yang dipelajarinya.” (Shahih: HR. Ath-Thabrani no. 7347 dalam Al-Mu’jam Al-Kabir)

19. Wasiat Berbuat Baik kepada Pelajar
سَيَأْتِيكُمْ أَقْوَامٌ يَطْلُبُونَ الْعِلْمَ، فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمْ فَقُولُوا لَهُمْ: مَرْحَبًا مَرْحَبًا بِوَصِيَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَاقْنُوهُمْ
Artinya, “Kelak akan datang sejumlah kaum yang menuntut ilmu. Jika kalian nanti melihat mereka maka sampaikan kepada mereka, ‘Selamat datang atas wasiat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam,’ lalu ajarilah mereka.” (Hasan: HR. Ibnu Majah no. 247)

20. Terkecualikan dari Laknat
أَلَا إِنَّ الدُّنْيَا مَلْعُونَةٌ مَلْعُونٌ مَا فِيهَا إِلَّا ذِكْرُ اللَّهِ وَمَا وَالَاهُ وَعَالِمٌ أَوْ مُتَعَلِّمٌ
Artinya, “Ketahuilah bahwa sesungguhnya dunia itu terlaknat dan terlaknat pula isinya kecuali berzikir kepada Allah dan ketaatan kepada-Nya, orang berilmu, dan orang yang belajar.” (Hasan: HR. At-Tirmidzi no. 2322)

21. Membiayai Pelajar Jadikan Berkahnya Harta
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: كَانَ أَخَوَانِ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَانَ أَحَدُهُمَا يَأْتِي النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْآخَرُ يَحْتَرِفُ، فَشَكَا المُحْتَرِفُ أَخَاهُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: «لَعَلَّكَ تُرْزَقُ بِهِ»
Artinya, Ada dua orang bersaudara (kakak-adik) di zaman Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di mana salah satu dari keduanya senantiasa mendatangi Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam (untuk mendengarkan hadits) dan yang lainnya sibuk bekerja. Lalu yang bekerja itu mengadukan saudaranya kepada beliau (karena tidak ikut membantu kerja) lalu beliau menjawab: “Boleh jadi kamu diberi rezki justru gara-gara saudaramu itu.” (Shahih: HR. At-Tirmidzi no. 2345)

22. Perumpamaan Menyelisihi Ilmu Sendiri
مَثَلُ الْعَالِمِ الَّذِي يُعَلِّمُ النَّاسَ الْخَيْرَ ويَنْسَى نَفْسَهُ كَمَثَلِ السِّرَاجِ يُضِيءُ لِلنَّاسِ ويَحْرِقُ نَفْسَهُ
Artinya, “Perumpamaan ahli ilmu yang mengajari manusia tetapi melupakan dirinya (tidak mengamalkan ilmunya) laksana lampu yang menerangi manusia tetapi membakar diri sendiri.” (Shahih: HR. Ath-Thabrani no. 1681 dalam Al-Kabir)

23. Ancaman Ilmu Untuk Dunia
مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَتَعَلَّمُهُ إِلَّا لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا، لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Artinya, “Siapa yang belajar ilmu yang seharusnya ia niatkan untuk Allah tetapi justru ia mempelajarinya untuk mendapatkan harta dunia maka ia tidak akan mencium aroma Surga di hari Kiamat.” (Shahih: HR. Abu Dawud no. 3664)

24. Ancaman Ilmu untuk Popularitas
مَنْ طَلَبَ العِلْمَ لِيُجَارِيَ بِهِ العُلَمَاءَ أَوْ لِيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ يَصْرِفَ بِهِ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ أَدْخَلَهُ اللَّهُ النَّارَ
Artinya, “Siapa mencari ilmu untuk membanggakan diri kepada ulama, atau mendebat orang-orang bodoh, atau agar diperhatikan oleh manusia maka Allah akan memasukkannya ke Neraka.” (Hasan: HR. At-Tirmidzi no. 2654)

25. Balasan Belajar karena Kesombongan
لَا تَعَلَّمُوا الْعِلْمَ لِتُبَاهُوا بِهِ الْعُلَمَاءَ، وَلَا لِتُمَارُوا بِهِ السُّفَهَاءَ، وَلَا تَخَيَّرُوا بِهِ الْمَجَالِسَ، فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَالنَّارُ النَّارُ
Artinya, “Kalian jangan belajar ilmu untuk tujuan membanggakan diri di sisi ulama, mendebat orang-orang bodoh, tampil di majlis, dan siapa yang melakukan itu maka Neraka, Neraka.” (Shahih: HR. Ibnu Majah no. 254)

26. ‘Alim yang Membahayakan
إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي كُلُّ مُنَافِقٍ عَلِيمِ اللِّسَانِ
Artinya, “Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas umatku adalah setiap orang munafik yang pintar bersilat lidah.” (Shahih: HR. Ahmad no. 144)


Tentang Pengajar

27. Dimintakan Ampun Oleh Penduduk Langit dan Bumi
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالأَرَضِينَ حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى الحُوتَ لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الخَيْرَ
Artinya, “Sesungguhnya Allah, para Malaikat-Nya, penduduk langit-langit dan bumi-bumi, hingga semut-semut yang ada di lubangnya, hingga ikat-ikan, benar-benar semuanya bershalawat (memintakan ampun) untuk orang yang mengajari kebaikan kepada manusia.” (Shahih: HR. At-Tirmidzi no. 2685)

28. Wajah Bersinar
نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مِنَّا حَدِيثًا فَحَفِظَهُ حَتَّى يُبَلِّغَهُ غَيْرَهُ، فَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ، وَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ لَيْسَ بِفَقِيهٍ
Artinya, “Semoga Allah menjadikan bercahaya seseorang yang mendengar hadits kami lalu menghafalnya hingga menyampaikannya kepada orang lain. Betapa banyak orang yang membawa (riwayat) fiqih kepada orang yang lebih faqih darinya. Betapa banyak orang yang membawa (riwayat) fiqih tetapi tidak faqih.” (Shahih: HR. At-Tirmidzi no. 2656)

29. Ahli Ilmu Pengganti Nabi
فَضْلُ العَالِمِ عَلَى العَابِدِ كَفَضْلِي عَلَى أَدْنَاكُمْ
Artinya, “Keutamaan ahli ilmu atas ahli ibadah seperti keutamanku atas orang paling rendah dari kalian.” (Shahih: HR. At-Tirmidzi no. 2685)

30. Ulama Pewaris Para Nabi
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَبْتَغِي فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الجَنَّةِ، وَإِنَّ المَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضَاءً لِطَالِبِ العِلْمِ، وَإِنَّ العَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِي الأَرْضِ حَتَّى الحِيتَانُ فِي المَاءِ، وَفَضْلُ العَالِمِ عَلَى العَابِدِ، كَفَضْلِ القَمَرِ عَلَى سَائِرِ الكَوَاكِبِ، إِنَّ العُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ، إِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَّثُوا العِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَ بِهِ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
Artinya, “Siapa yang menempuh perjalanan dalam rangka mencari ilmu maka Allah akan mudahkan ia jalan menuju Surga. Sungguh para Malaikat benar-benar  meletakkan sayap-sayapnya karena ridho dengan penuntut ilmu. Sungguh orang alim benar-benar dimintakan ampun oleh makhluk langit dan bumi hingga ikan-ikan di lautan. Keutamaan ahli ilmu atas ahli ibadah seperti keutamaan bulan purnama atas semua bintang-bintang.  Sungguh ulama adalah pewaris para Nabi, para Nabi tidak mewariskan dirham dan dinar, tetapi yang mereka wariskan adalah ilmu. Siapa yang mengambilnya berarti ia telah mengambil bagian yang besar.” (Shahih: HR. At-Tirmidzi no. 2682)

31. Keutamaan Ahli Ilmu dan Dai
مَثَلُ مَا بَعَثَنِي اللَّهُ بِهِ مِنَ الهُدَى وَالعِلْمِ، كَمَثَلِ الغَيْثِ الكَثِيرِ أَصَابَ أَرْضًا، فَكَانَ مِنْهَا نَقِيَّةٌ، قَبِلَتِ المَاءَ، فَأَنْبَتَتِ الكَلَأَ وَالعُشْبَ الكَثِيرَ، وَكَانَتْ مِنْهَا أَجَادِبُ، أَمْسَكَتِ المَاءَ، فَنَفَعَ اللَّهُ بِهَا النَّاسَ، فَشَرِبُوا وَسَقَوْا وَزَرَعُوا، وَأَصَابَتْ مِنْهَا طَائِفَةً أُخْرَى، إِنَّمَا هِيَ قِيعَانٌ لاَ تُمْسِكُ مَاءً وَلاَ تُنْبِتُ كَلَأً، فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقُهَ فِي دِينِ اللَّهِ، وَنَفَعَهُ مَا بَعَثَنِي اللَّهُ بِهِ فَعَلِمَ وَعَلَّمَ، وَمَثَلُ مَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِذَلِكَ رَأْسًا، وَلَمْ يَقْبَلْ هُدَى اللَّهِ الَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ
Artinya, “Perumpamaan petunjuk dan ilmu yang aku diutus dengannya seperti hujan lebat yang menimpa bumi. Di antara tanah bumi ada yang subur yang menyerap air sehingga menumbuhkan tanaman dan rerumputan yang banyak. Ada pula tanah gembur yang hanya menampung air. Dengannya (kedua jenis tanah tersebut) Allah menjadikannya bermanfaat bagi manusia untuk mereka minum, memberi minum ternak, dan berladang. Hujan itu juga menimpa tanah jenis lain yaitu qi’an yang tidak bisa menampung air dan tidak bisa pula menumbuhkan tanaman. (Kedua jenis tanah pertama) itulah perumpamaan untuk orang yang paham agama. Dia memanfaatkan apa yang Allah utus aku dengannya dengan mempelajari dan mengajarkannya. (Jenis tanah terakhir) adalah perumpaan untuk orang yang tidak peduli dan tidak menerima apapun yang Allah utus aku dengannya.” (HR. Al-Bukhari no. 79 dan Muslim no. 2282)

32. Anjuran Iri kepada Ahli Ilmu
لاَ حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ: رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَسُلِّطَ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي الحَقِّ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الحِكْمَةَ فَهُوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا
Artinya, “Tidak boleh hasad kecuali pada dua jenis orang, yaitu seseorang yang diberi Allah harta lalu dia habiskan dalam kebaikan dan seseorang yang diberi Allah hikmah (ilmu) lalu diterapkan dan diajarkan.” (HR. Al-Bukhari no. 73 dan Muslim no. 861)

33. Ulama adalah Mujaddid Agama
إِنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ لِهَذِهِ الْأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِينَهَا
Artinya, “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla mengutus untuk umat ini di permulaan setiap 100 tahun seseorang yang melakukan tajdid (pembaharuan) untuk umat.” (Shahih: HR. Abu Dawud no. 4291)

34. Amanah Agama di Punggung Ulama
يَحْمِلُ هَذَا الْعِلْمَ مِنْ كُلِّ خَلَفٍ عُدُولُهُ يَنْفُونَ عَنْهُ تَحْرِيفَ الْغَالِينَ، وَانْتِحَالَ الْمُبْطِلِينَ، وَتَأْوِيلَ الْجَاهِلِينَ
Artinya, “Ilmu ini diemban dari setiap generasi orang yang terpercaya di mana mereka melenyapkan penyimpangan ilmu dari orang-orang yang melampai batas, pemalsuan dari orang-orang yang batil, dan takwil dari orang-orang bodoh.” (Shahih: HR. Ibnu Baththoh no. 33 dalam Al-Ibanah Al-Kubra)

35. Wajib Memuliakan ‘Ulama
لَيْسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ لَمْ يُجِلَّ كَبِيرَنَا، وَيَرْحَمْ صَغِيرَنَا، وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا
Artinya, “Bukanlah termasuk umatku siapa yang tidak menghormati yang lebih tua dari kami, tidak menyanyangi yang lebih muda dari kami, dan tidak mengenal hak ulama kami.” (Shahih Lighoirih: HR. Ahmad no. 22755)

36. Pahala Berlipat-Lipat
مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى، كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ، لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا
Artinya, “Siapa yang mengajak kepada petunjuk, maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahalanya sedikitpun.” (HR. Muslim no. 2674)

37. Larangan Menyembunyikan Ilmu
مَنْ سُئِلَ عَنْ عِلْمٍ يَعْلَمُهُ فَكَتَمَهُ، أُلْجِمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِلِجَامٍ مِنْ نَارٍ
Artinya, “Siapa yang ditanya ilmu yang diketahuinya lalu menyembunyikannya maka Allah akan memakaikannya pakaian dari Neraka pada Hari Kiamat.” (Shahih: HR. Ibnu Majah no. 266)

38. Musibah Besar Atas Kematian Ulama
إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبِضُ العِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ العِبَادِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ العِلْمَ بِقَبْضِ العُلَمَاءِ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا، فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ، فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا
Artinya, “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu begitu saja dari pada hamba tetapi mencabut ilmu dengan wafatnya para ulama hingga apabila sudah tidak tersisa lagi ulama maka manusia mengangkat pemimpim-pemimpin yang bodoh. Mereka pun ditanya lalu berfatwa tanpa ilmu sehingga mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. Al-Bukhari no. 100 dan Muslim no. 2673)

39. Dimuliakan di Akhirat
إِنَّ الْعُلَمَاءَ إِذَا حَضَرُوا رَبَّهُمْ عَزَّ وَجَلَّ كَانَ مُعَاذُ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ رَتْوَةً بِحَجَرٍ
Artinya, “Sesungguhnya ulama apabila menghadap Rabb-nya maka Mu’adz bin Jabal berada di depan mereka dalam kemuliaan.” (Shahih: HR. Abu Nuaim  I/228 dan Ash-Shahihah no. 1091)

40. Berilmu Pasti Masuk Surga
مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، دَخَلَ الْجَنَّةَ
Artinya, “Siapa yang meninggal dalam keadaan mengilmui (makna) laa ilaaha illa Allah maka pasti ia masuk Surga.” (HR. Muslim no. 26)

__
Referensi: terjemahmatan.com

Bagikan:

Artikel Lainnya: