Sosok KH. Ahmad Dimyati, Pendiri Pesantren Mafazah Assalafiyah

Sosok KH. Ahmad Dimyati, Pendiri Pesantren Mafazah Assalafiyah

Setiap tahun, Pondok Pesantren Mafazah Assalafiyah yang beralamat di Kp. Mapajah RT 03 RW 10 Desa Pasirpogor Kecamatan Sindangkerta Kabupaten Bandung Barat menyelenggarakan acara haul para pendiri Pondok Pesantren Mafazah. Selain untuk mendoakan, acara haul juga dilaksanakan dalam rangka silaturahmi santri, alumni, dan masyarakat umum. 

Dalam acara haul diceritakan beberapa hal yang berkaitan dengan sejarah dan sosok-sosok pendiri pesantren Mafazah. Dan melalui tulisan ini, secara singkat penulis akan membahas sosok Mama Mafazah sebagai pendiri Pondok Pesantren Mafazah.

Mama KH Ahmad Dimyati Mafazah


Mengenal Mama Mafazah

Mama Mafazah memiliki nama asli KH. Ahmad Dimyati. Ayahnya bernama Mad Tarif dan Ibunya bernama Umi Sar'ah.

Sampai saat ini, penulis belum menemukan catatan kelahiran Mama Mafazah. Namun melihat dari catatan kelahiran anak keduanya (almarhum KH. Asep Hasanudin) yang menurut keluarga lahir di tahun 1939, maka diperkirakan Mama Mafazah lahir antara tahun 1905 sampai 1915 dengan mengukur usia rata-rata seseorang menikah di usia 20-30 tahun.

Mama Mafazah merupakan anak ke-3 dari 7 bersaudara. Secara berurutan, 7 bersaudara tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Hj. Siti Maemunah, dimakamkan di pemakaman umum Dungusgede.
  2. H. Hasan, dimakamkan di pemakaman umum Dungusgede.
  3. KH. Ahmad Dimyati/Mama Mafazah, dimakamkan di komplek pemakaman keluarga Pesantren Mafazah.
  4. KH. Mahmudin, dimakamkan di komplek pemakaman keluarga Pesantren Mafazah.
  5. H. Sahya, dimakamkan di pemakaman umum Dungusgede.
  6. KH. Suja'i, dimakamkan di pemakaman umum Pangauban. Salah satu anak beliau adalah KH. Asep Suja'i adalah sesepuh Pondok Pesantren Barokatul Haromain Plered Purwakarta.
  7. H. Syafi’i, dimakamkan di pemakaman umum Dungusgede.

Dalam pejalanan hidupnya, KH. Ahmad Dimyati pernah menikah sebanyak dua kali. Disebutkan, istri pertama beliau bernama Neneng. Namun pada pernikahan ini terjadi perceraian dan tidak ada keturunan.

Kemudian beliau menikah lagi dengan Hj. Siti Masitoh (Embu) yang pada saat itu juga berstatus janda. Hj. Siti Masitoh ini sebelumnya pernah menikah dengan KH. Komar Darojatulloh yang dikenal selanjutnya sebagai Mama Pajagalan Cililin.

Mama Pajagalan Cililin merupakan sahabat dari Mama Mafazah. Keduanya pernah sama-sama mondok dan menimba ilmu di Pesantren Mama Cijerah. Sehingga pernikahan Mama Mafazah bisa dikatakan menikahi mantan istri sahabatnya.

Dari pernikahan Mama Mafazah dengan Embu Hj. Siti Masitoh lahir sejumlah anak, diantaranya:

  1. Burhan, meninggal waktu masih anak-anak.
  2. KH. Asep Hasanudin (Alm.), Merupakan pendiri Pondok Pesantren Al-Huda Radio Cililin).
  3. KH. Aceng (Alm.), merupakan tokoh agama di Cibabat.
  4. H. Daud, tinggal di Kp. Pasirpogor Desa Puncaksari.
  5. Hj. Euis, tinggal di Kp. Cimuncang Desa Pasirpogor.
  6. KH. Gufron Dimyati, dewan guru dan ketua KBIHU Mafazah Assalafiyah.
  7. KH. Saepulloh, dewan guru di Pesantren Mafazah Assalafiyah.
  8. Bpk. Dudun Sya'duloh, dewan guru di Pesantren Mafazah Assalafiyah.
  9. Hj. Imas, tinggal Pondok Pesantren al-Ikhlas Cikawung, Sukamulya, Cipongkor.
  10. Neneng, meninggal waktu kecil.
  11. Hj. Toto, tinggal di Pondok Pesantren Mafazah Assalafiyah.
  12. Maesaroh, meninggal waktu kecil.
  13. Hj. Neneng Nurlatipah, tinggal di Pondok Pesantren Mafazah Assalafiyah.

Perjalanan Ngaji Mama Mafazah

Ahmad Dimyati kecil merupakan sosok yang sederhana. Kesehariannya tidak lepas dari membantu pekerjaan-pekerjaan kedua orang tuanya sebagai seorang petani.

Berbeda dengan kakak dan adiknya, Ahmad Dimyati kecil tidak langsung dimasukan ke pesantren. Bahkan ia tidak mengenyam bangku pendidikan sekolah sebagaimana saudaranya yang lain.

Kesehariannya hanya berkutat pada kegiatan-kegiatan sebagaimana warga desa pada umumnya seperti menggarap sawah, mengurus ternak, mengolah kebun, dan lain sebagainya.

Suatu ketika, Ahmad Dimyati kecil disuruh oleh ayahnya untuk menggiring kerbau-kerbau yang sedang dilepas di pesawahan untuk dibawa kembali pulang.

Pada saat mengerjakan tugas tersebut, Ahmad Dimyati mengalami kesulitan untuk menggiring kerbau-kerbaunya. Waktu terus larut hingga menjelang maghrib, namun ia masih belum juga berhasil menggiring kerbau-kerbaunya.

Pada akhirnya, sang ayah datang menyusul dan memarahi Ahmad Dimyati karena ketidakmampuannya menggiring kerbau. Kerbau-kerbaunya itu pun dipukul oleh sang ayah hingga berontak. Dalam suasana seperti itu, kerbau yang panik lantas menginjak kaki Ahmad Dimyati. Yang pada akhirnya beberapa jari kaki Ahmad Dimyati terputus akibat injakan kerbau.

Atas kejadian ini, Ahmad Dimyati merasa sedih. Ia menjadi banyak merenung dan berpikir ingin seperti saudara-saudaranya mengenyam pendidikan. Lantas ia pun memutuskan untuk kabur dari rumah dan berangkat ke pesantren tempat dimana kakaknya yang bernama Hasan mondok. Pesantren tersebut adalah pesantren Sukamanah Cibitung yang diasuh oleh KH. Muhamad Ilyas (Mama Cibitung).

Ketika sedang di pondok, beberpa kali Ahmad Dimyati diminta pulang oleh ayahnya. Namun ia enggan dan bersikukuh untuk tetap tinggal di pesantren dengan berguru kepada KH. Muhammad Ilyas (Mama Cibitung). Hingga pada akhirnya, kedua orang tuanya pun menyetujui keputusan Ahmad Dimyati untuk mondok.

Selanjutnya dalam belajar ilmu agama, tidak banyak pesantren yang beliau singgahi. Tercatat ada 3 pesantren yang menjadi tempat mondok Ahmad Dimyati. Pertama, di Pesantren Cibitung berguru pada KH. Muhammad Ilyas (Mama Cibitung). Kedua, di pesantren Cijerah berguru pada KH. Muhammad Syafi’i (Mama Cijerah). Dan ketiga di Pesantren Sukaraja Garut berguru pada Syaikh Adra'i. Di Sukaraja, Mama Mafazah seangkatan dengan Raden Usman Sadang dan Mama Sanja Kadukaweng.

Kedekatan KH. Ahmad Dimyati dengan gurunya KH. Muhammad Ilyas Cibitung bisa dikatakan erat. Diceritakan beberapa kali KH. Muhammad Ilyas Cibitung berkunjung ke Pesantren Mafazah untuk menengok muridnya yang yang juga merintis pesantren.

Tentang Pesantren Mafazah Assalafiyah

Pesantren Mafazah Assalafiyah dberdiri sebelum masa kemerdekaan. Pesantren ini didirikan oleh KH. Ahmad Dimyati setelah beliau menikah dengan Hj. Siti Masitoh.

Pada masa awal berdiri, kegiatan belajar mengajar di pesantren Mafazah dikelola sendiri oleh KH. Ahmad Dimyati. Namun semakin bertambahnya santri, beliau mengajak adiknya KH. Mahmudin yang saat itu tinggal di Malandang Pasirpogor untuk turut membantu mengajar. Kemudian beliau mengajak pula adiknya yang lain H. Syafi'i yang saat itu tinggal di Cigombong untuk ikut mengajar. Akhirnya keduanya kemudian menetap di Pesantren Mafazah yang kemudian disebut kampung mapajah.

Namun, KH. Mahmudin  meninggal terlebih dahulu disusul oleh H. Syafi'i.

Selanjutnya ketika anak-anak KH. Ahmad Dimyati dewasa, kegiatan mengajar dan pengelolaan pesantren dilanjutkan oleh anak-anak dan mantu beliau.

Adapun yang saat ini pesantren Mafazah dikelola secara langsung oleh KH. Gufron Dimyati, KH. Syaifulloh, Bpk. Dudun Sya'dulloh, KH. Syaiful Qudus, KH. Amin Bunyamin.

Selain pendidikan pesantren salafiyah, Pesantrrn Mafazah juga menyelenggarakan kelompok bimbingan ibadah haji yang diketuai oleh KH. Gufron Dimyati.

Oleh: Ang Rifkiyal

Bagikan: