Mengenang KH. Asep Burhanudin, Ajengan Visioner dari Bandung Barat

Kabar duka menyelimuti kalangan santri dan pesantren di Bandung Barat. Salah satu tokoh dan figur ajengan sepuh, KH. Asep Burhanudin tutup usia pada Rabu (28/9), di kediamannya di Pondok Pesantren Darul Falah, Cihampelas Bandung Barat.

KH. Asep Burhanudin dikenal sebagai ajengan yang visioner. Wawasan dan cara pandangnya yang luas menjadikannya sebagai figur panutan bagi kalangan santri dan pesantren khususnya di wilayah Bandung Barat.

KH. Asep Burhanudin lahir pada 20 Februari tahun 1945 di Kampung Citamiang, Desa Sukamulya, Kecamatan Cipongkor. Ia merupakan putra dari KH. Abdul Hamid. Dari nasab ibunya, KH. Asep Burhanudin merupakan buyut dari KH. Muhammad Ilyas (Mama Cibitung).

Lahir sebagai ajengan kampung, tidak serta merta membuatnya terbatas dalam bergerak. Cara pandangnya yang luas membuatnya maju untuk mengembangkan pesantren dan lembaga yang dipimpinnya.

Pondok Pesantren Darul Falah yang ia dirikan kini berkembang dengan adanya lembaga pendidikan SMP, SMA, dan Perguruan Tinggi.

Selanjutnya, KH. Asep Burhanudin banyak menginisiasi kegiatan-kegiatan besar yang diselenggarakan di lembanganya. Baik skala lokal maupun skala nasional.

KH. Asep Burhanudin dikenal memiliki pergaulan yang luas. Sebagai seorang ajengan, ia juga aktif dalam berorganisasi. Yang paling dikenal, beliau pernah menjadi Rais Syuriyah PWNU Jawa Barat selama dua periode. Yakni pada tahun 2006-2011, dan tahun 2011-2016.

Karena keluwesannya ini, banyak tokoh-tokoh nasional berkunjung ke kediaman beliau. Termasuk diantaranya adalah pejabat-pejabat penting negara dari setiap masanya. Seperti Susilo Bambang Yudhoyono, Hamzah Haz, Yahya Cholil Staquf, dan lainnya.

Pandangan, pemikiran, dan gerakan KH. Asep Burhanudin yang dianggap luar biasa seringkali dijadikan bahan penelitian di kalangan akademisi. Tidak jarang sejumlah mahasiswa banyak yang menjadikan KH. Asep Burhanudin dan lembaganya sebagai bahan dalam penyusunan skripsi.

Kini, ajengan sepuh di Bandung Barat yang visioner itu telah tiada. Namun jariyahnya melalui gerakan pendidikan dan pesantren akan tetap hidup.

(Ang Rifkiyal)

Bagikan: